Pekanbaru — Autism Spectrum Disorder (ASD) atau gangguan spektrum autisme merupakan kondisi perkembangan saraf yang memiliki keterkaitan kuat dengan faktor genetik. Namun, autisme tidak disebabkan oleh satu gen tunggal, melainkan oleh interaksi kompleks berbagai variasi genetik, faktor lingkungan, serta mekanisme epigenetik.
Hal tersebut dibahas dalam artikel ilmiah berjudul “Autism Spectrum Disorder: Genetic Mechanisms and Inheritance Patterns” karya Ilaria La Monica dan sejumlah peneliti lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Genes pada tahun 2025.
Gambar 1. Tanda-tanda utama yang diamati pada pasien dengan ASD. |
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa ASD memiliki tingkat heritabilitas yang tinggi, dengan estimasi sekitar 70–90 persen. Artinya, faktor genetik memberikan kontribusi besar terhadap variasi terjadinya ASD dalam populasi. Namun, angka tersebut tidak berarti bahwa seorang anak memiliki kemungkinan 70–90 persen “mewarisi autisme” secara langsung dari orang tuanya.
Para peneliti menegaskan bahwa ASD memiliki pola pewarisan yang sangat kompleks. Berbagai perubahan genetik dapat terlibat, termasuk Single Nucleotide Variants (SNVs) dan Copy Number Variants (CNVs). CNV merupakan perubahan pada bagian DNA berupa penghapusan atau penggandaan segmen tertentu yang dapat memengaruhi satu atau beberapa gen sekaligus.
Sejumlah wilayah kromosom diketahui berkaitan dengan ASD, di antaranya 1q21.1, 15q13.3, 16p11.2, 17p11.2, 22q11.2, 16p13.1, dan 7q11.23. Meski demikian, keberadaan variasi genetik tertentu tidak selalu menyebabkan seseorang menunjukkan karakteristik ASD.
| Gambar 2. Gambar 2. Model *double hit*. Risiko ASD dapat disebabkan oleh adanya (A) dua perubahan yang diwariskan: satu berasal dari pihak ayah dan satu dari pihak ibu; (B) perubahan *de novo* dan perubahan yang diwariskan: satu bersifat *de novo* dan satu berasal dari orang tua. |
Salah satu konsep penting yang dibahas dalam penelitian ini adalah double-hit model. Konsep tersebut menjelaskan bahwa satu perubahan genetik mungkin belum cukup untuk menghasilkan manifestasi klinis, tetapi ketika terdapat perubahan genetik tambahan, dampaknya dapat menjadi lebih kuat.
Perubahan tersebut dapat berasal dari kedua orang tua, terjadi secara baru atau de novo, maupun merupakan kombinasi antara variasi yang diwariskan dan variasi baru. Kondisi ini membantu menjelaskan mengapa orang tua dapat membawa suatu variasi genetik tetapi tidak menunjukkan ASD, sementara anak yang memiliki tambahan variasi genetik dapat menunjukkan manifestasi perkembangan saraf yang lebih nyata.
Artikel tersebut juga membahas konsep incomplete penetrance, yaitu keadaan ketika seseorang membawa variasi genetik tertentu tetapi tidak menunjukkan gejala klinis yang sama dengan individu lain yang memiliki variasi serupa.
Dengan demikian, dua orang yang memiliki perubahan genetik yang sama belum tentu memiliki kondisi atau tingkat keparahan yang sama. Faktor genetik tambahan dan faktor biologis lainnya dapat memengaruhi bagaimana suatu perubahan genetik diekspresikan.
Selain itu, peneliti membahas compound heterozygosity, yaitu kondisi ketika dua salinan dari satu gen mengalami perubahan yang berbeda. Mekanisme ini diduga turut berperan dalam menjelaskan mengapa pada beberapa keluarga, anak menunjukkan ASD sementara orang tua pembawa salah satu variasi genetik tidak menunjukkan kondisi yang sama.
Penelitian juga mengidentifikasi sejumlah gen yang dapat berperan sebagai modifier genes, seperti NRXN1, NLGN1, SHANK2, SHANK3, MECP2, SETD5, CHD8, dan ASH1L. Gen-gen tersebut berkaitan dengan berbagai proses penting dalam perkembangan sistem saraf, termasuk pembentukan dan fungsi sinaps, regulasi kromatin, serta pengaturan ekspresi gen.
ASD juga dapat ditemukan dalam bentuk sindromik, yakni ASD yang berkaitan dengan kondisi genetik tertentu seperti Fragile X Syndrome, Rett Syndrome, Tuberous Sclerosis, Prader-Willi Syndrome, Angelman Syndrome, dan Williams Syndrome. Sementara itu, pada ASD non-sindromik, tidak terdapat satu penyebab genetik tunggal yang dapat menjelaskan kondisi tersebut.
Kemajuan teknologi genetika, terutama array comparative genomic hybridization (a-CGH) dan Next-Generation Sequencing (NGS), dinilai sangat membantu dalam memahami dasar genetik ASD. Teknologi tersebut memungkinkan peneliti mendeteksi berbagai perubahan genetik yang sebelumnya sulit diidentifikasi.
Pada bagian kesimpulannya, para peneliti menekankan bahwa ASD merupakan kondisi neurodevelopmental yang sangat heterogen. Faktor genetik memainkan peran penting, tetapi mekanisme munculnya ASD tidak dapat disederhanakan sebagai akibat satu gen atau satu pola pewarisan.
Pemahaman terhadap konsep seperti double hit, modifier genes, incomplete penetrance, dan compound heterozygosity diharapkan dapat membantu menjelaskan keragaman karakteristik ASD serta mendukung perkembangan pemeriksaan genetik dan pendekatan klinis yang lebih tepat di masa mendatang.
Pesan penting bagi masyarakat adalah bahwa autisme bukan semata-mata hasil dari satu faktor tunggal. ASD merupakan kondisi perkembangan saraf yang melibatkan interaksi berbagai mekanisme biologis dan genetik yang kompleks.
Sumber:
La Monica, I.; Di Iorio, M.R.; Sica, A.; Rufino, F.; Sotira, C.; Pastore, L.; Lombardo, B. Autism Spectrum Disorder: Genetic Mechanisms and Inheritance Patterns. Genes 2025, 16, 478. https://doi.org/10.3390/ genes16050478






