Prepare for Independent Life

Cap Tangan Peduli Autis

Ibu Hj. Septina Primawati Rusli, MM. Memberi Dukungan Kepada Anak Autis.

Asian Autism Games

Kontingen Pekanbaru Lab School saat memperkuat team Indonesia.

Pameran Karya Autistik

Pameran Karya Anak-anak Autis di Pekanbaru.

Wisata Sumatra Barat

Kegiatan wisata di Sumatra Barat.

Autism Awareness Day

Naila Agnesia Riyanti saat tampil dalam peringatan Hari Autis Sedunia.

Tampilkan postingan dengan label autis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label autis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2023

Kunjungan Ketua Umum Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI) di Pekanbaru Lab School

Pada hari Rabu (08/0/2023), Pimpinan Pekanbaru lab School menerima ketua umum Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia bersama dosen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Aceh bersama perwakilan dari RSIA Andini Pekanbaru, Klinik Pratama Unhuma, dan mahasiswa magang dari Medan, Sumatera Utara.

Kunjungan ini bermaksud untuk melihat bagaimana penanganan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus di Pekanbaru Lab School. Pekanbaru Lab School sendiri, dalam tahapan penanganan Anak Berkebutuhan Khusus, berada pada level penanganan tingkat lanjut. 

Pimpinan Pekanbaru Lab School bersama ketua Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia bersama dosen Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Aceh bersama perwakilan dari RSIA Andini Pekanbaru, Klinik Pratama Unhuma, dan mahasiswa magang dari Medan, Sumatera Utara.

Foto bersama

Sabtu, 07 Mei 2022

Lirik Lagu Hachi Anak Sebatang Kara




Mama

Mama
Di manakah kau berada?
Mama
Mama
Ingin sekali ku bertemu

Hatchi anak yang sebatang kara
Pergi mencari ibunya
Di malam yang sangat dingin
Teringat mama
Walaupun kesepian
Hatchi tetap bergembira

Mama
Mama
Di manakah kau berada?
Mama
Mama
Suatu saat pasti bertemu
Mama
Mama
Hatchi ingin bertemu
Mama
Mama
Suatu saat pasti bertemu

Kamis, 21 April 2022

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

APA ITU ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS? 
Ilustrasi


  1. Anak Berkebutuhan Khusus adalah suatu istilah yang digunakan dalam diagnosa klinis dan perkembangan fungsional untuk menjelaskan individu yang mengalami gangguan secara fisik, mental, atau psikologis. 
  2. Anak Berkebutuhan Khusus menurut Suran dan Rizzo adalah mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal, seperti tuli, buta, gangguan bicara, cacat tubuh, RM, gangguan emosional. Selain itu, anak-anak yang berbakat dengan intelegensi yang tinggi, dapat dikategorikan sebagai anak khusus/luar biasa, karena memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga profesional. 
  3. Anak Berkebutuhan Khusus menurut Hallahan dan Kauffman adalah mereka yang memerlukan pendidikan khusus dan pelayanan terkait, jika mereka menyadari akan protensi penuh kemanusiaan mereka. Pendidikan khusus diperlukan karena mereka tampak berbeda dari siswa pada umumnya dalam satu atau lebih hal berikut: mereka mungkin memiliki keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosi atau perilaku, hambatan fisik, hambatan komunikasi, autisme, traumatic brain injury, hambatan pendengaran, hambatan penglihatan, atau special gift or talent 

KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: 

Anak Berkebutuhan Khusus saat pantomim


  1. Anak disabilitas penglihatan adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatan berupa kebutaan menyeluruh (total) atau sebagian (low vision). 
  2. Anak disabilitas pendengaran adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran, baik sebagian ataupun menyeluruh, dan biasanya memiliki hambatan dalam berbahasa dan berbicara.
  3. Anak disabilitas intelektual adalah anak yang memiliki inteligensia yang signifikan berada dibawah rata-rata anak seusianya dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku, yang muncul dalam masa perkembangan. 
  4. Anak disabilitas fisik adalah anak yang mengalami gangguan gerak akibat kelumpuhan, tidak lengkap anggota badan, kelainan bentuk dan fungsi tubuh atau anggota gerak. 
  5. Anak disabilitas sosial adalah anak yang memiliki masalah atau hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial, serta berperilaku menyimpang. 
  6. Anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan, yang ditandai dengan sekumpulan masalah berupa ganggguan pengendalian diri, masalah rentang atensi atau perhatian, hiperaktivitas dan impulsivitas, yang menyebabkan kesulitan berperilaku, berfikir, dan mengendalikan emosi. 
  7. Anak dengan gangguan spektrum autisma atau autism spectrum disorders (ASD) adalah anak yang mengalami gangguan dalam tiga area dengan tingkatan berbeda-beda, yaitu kemampuan komunikasi dan interaksi sosial, serta pola-pola perilaku yang repetitif dan stereotipe. 
  8. Anak dengan gangguan ganda adalah anak yang memiliki dua atau lebih gangguan sehingga diperlukan pendampingan, layanan, pendidikan khusus, dan alat bantu belajar yang khusus. 
  9. Anak lamban belajar atau slow learner adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah rata-rata tetapi belum termasuk gangguan mental. Mereka butuh waktu lama dan berulang-ulang untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun non akademik. 
  10. Anak dengan kesulitan belajar khusus atau specific learning disabilities adalah anak yang mengalami hambatan atau penyimpangan pada satu atau lebih proses psikologis dasar berupa ketidakmampuan mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja dan berhitung.
  11. Anak dengan gangguan kemampuan komunikasi adalah anak yang mengalami penyimpangan dalam bidang perkembangan bahasa wicara, suara, irama, dan kelancaran dari usia rata-rata yang disebabkan oleh faktor fisik, psikologis dan lingkungan, baik reseptif maupun ekspresif. 
  12. Anak dengan potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa adalah anak yang memiliki skor inteligensi yang tinggi (gifted), atau mereka yang unggul dalam bidang-bidang khusus (talented) seperti musik, seni, olah raga, dan kepemimpinan.

Sabtu, 16 April 2022

AUTISME DALAM DSM V: Apa Saja Perubahannya?



Diagnosa Autisme

Profesional dalam bidang kesehatan mental, seperti: Dokter Anak, Psikiater dan Psikolog biasa menggunakan DSM dalam menyusun diagnosa Autisme. DSM memberikan panduan dan penjelasan mengenai berbagai gejala dan tanda-tanda yang terkait dengan autisme. DSM juga memberikan kriteria mengenai berapa jumlah gejala yang harus tampak untuk dapat menegakkan diagnosa klinis autisme.

Perubahan diagnosa di DSM V

Ada beberapa perubahan diagnosa dalam DSM V yang perlu dipahami oleh profesional dalam bidang kesehatan mental.

1. Satu diagnosa gangguan Autisme Spektrum (Autism Spectrum Disorder).

Diagnosa ASD menggantikan berbagai diagnosa klinis terdahulu seperti Gangguan Autistik, Asperger, dan Ganggan Pervasive yang tidak spesifik.

2. Kriteria derajat keberatan gejala.

Dalam diagnosa ASD diperkenalkan juga kontinuum derajat keberatan autisme, dari level 1, 2, 3. Tingkatan ini didasarkan pada sejauhmana anak membutuhkan dukungan orang lain dalam melakukan tugas perkembangannya. Tingkatan ini menunjukkan bahwa ada anak dengan tingkat ASD ringan dan ada pula yang tingkat gangguan lebih berat.

4. Diagnosa ASD dari Triadic menjadi Dyadic

Sebelumnya diagnosa autisme ditegakkan jika muncul gangguan pada 3 ranah, yaitu: komunikasi dan bahasa, interaksi sosial dan perilaku minat terbatas dan berulang (DSM IV TR, 2000). Namun dalam DSM V, diagnosanya menjadi 2 ranah, yaitu: hambatan komunikasi sosial (deficits in social communication) dan minat yang terfiksasi dan perilaku berulang (fixated interest and repetitive behavior).

5. Profil sensoris autisme

Sebelumnya problem sensoris atau inderawi autisme tidak disebutkan dalam DSM IV. Dalam DSM V, profil sensoris anak dengan ASD dimasukkan dalam gejala minat yang terfiksasi dan perilaku berulang. Misalkan: tidak menyukai makanan tertentu yang memiliki warna atau tekstur tertentu.

6. Gejala yang telah muncul sejak masa kanak

Menurut DSM V, diagnosa ASD bisa ditegakkan jika anak telah menunjukkan gejala sejak masa kanak. Walaupun gangguan ASD baru diketahui setelah masa kanak, namun penting untuk melihat dyadic tersebut yang menunjukkan bahwa anak memiliki persoalan dalam hal sosial dan perilaku dibandingkan anak-anak seusianya.

7. Diagnosa comorbid

Dalam DSM V, dijelaskan bahwa jika anak menampilkan gejala dari beberapa gangguan, maka ia bisa mendapatkan diagnosa komorbid. Diagnosa komorbid adalah jika anak  mendapatkan 2 diagnosa gangguan atau lebih. Misalkan, anak dengan ASD dan ADHD.

8. Perbedaan diagnosa Gangguan komunikasi sosial dan ASD

Perbedaannya adalah Gangguan komunikasi sosial (Social Communication Behavior) tidak mencakup problem perilaku minat terbatas dan berulang. Karena ini adalah kriteria yang baru, ahli klinis perlu lebih mempelajarinya agar lebih terbiasa menggunakannya.

Perubahan ini akan mempengaruhi proses pembuatan diagnosa di seluruh dunia. Di Australia, mulai saat ini proses diagnosa ASD telah mulai menggunakan DSM V. Namun di Indonesia proses diagnosa ASD belum dilakukan dengan panduan DSM V.

 Sumber:

https://psikologiforensik.com/

Raising Children Network (2013). DSM V: Diagnosis of ASD. Dibaca dari www.raisingchildren.net.au

Jumat, 03 Mei 2019

Manfaat Berenang Untuk Anak Autis

Berenang

Aktivitas outing yang paling disukai anak-anak, berenang dan bermain air. Hore.... Hore.... Semua bergembira!!

Aktivitas yang rutin diselenggarakan oleh Pekanbaru Lab School ini cukup dinikmati oleh anak-anak, bahkan ada yang sulit untuk mengakhiri aktivitas ini.

Berenang selain menyenangkan bagi anak-anak, ternyata banyak mempunyai manfaat. Selain untuk mencegah terjadinya tenggelam, ada berbagai manfaat berenang yang bisa didapatkan anak dengan autisme. Gerakan lembut dan berulang yang dilakukan saat beraktivitas di air dapat memberikan ketenangan pada anak GSA. Berenang juga membantu mengatasi frustrasi atau perasaan marah yang sedang dialami anak. Pasalnya, saat berolahraga di kolam renang anak akan melepaskan endorfin yang membuat mereka merasa lebih positif, atau merasa lebih bahagia.

Autism Spectrum Disorder Foundation mencatat bahwa banyak olahraga yang sulit dilakukan untuk anak-anak dengan autisme karena mereka harus fokus pada beberapa aspek yang berbeda sekaligus.

Ini berbeda dengan berenang. Berenang adalah olahraga yang bisa dilakukan sendirian sehingga jauh lebih mudah bagi anak dengan autisme untuk melakukan olahraga ini. Anak dengan autisme yang belajar renang lama-lama akan meningkatkan kemampuan koordinasi gerakan tubuhnya, serta memperkuat fisiknya.

Dilansir dari laman Autism Speaks, anak dengan autisme yang belajar renang memiliki keseimbangan tubuh, kelenturan, dan juga daya tahan otot yang lebih baik.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pekanbaru, Riau, Indonesia
Sekolah khusus Pekanbaru Lab School berdiri pada tanggal 7 Mei 2010. Visi Pekanbaru Lab School ini adalah sebagai wadah pendidikan khusus dan layanan khusus sehingga semua mendapatkan hak layanan pendidikan dan kesempatan tumbuh dan berkembang secara maksimal. Pekanbaru Lab School mempunyai beberapa divisi, yaitu: 1) Sekolah Khusus, 2) Sekolah Kesetaraan, 3) Life Skill & Keaksaraan, 4) Taman Bacaan Masyarakat, 5) Governess & Shadow Teacher dan 6) Divisi Asrama. Penanganan pendidikan khusus dan layanan khusus yang diberikan di Pekanbaru Lab School bersifat holistik dan terintegrasi sehingga kemampuan anak bisa dikembangkan secara optimal.Pekanbaru Lab School adalah sekolah nasional yang sudah terakreditasi B. Mari kita dukung anak-anak mendapatkan layanan pendidikan terbaik sehingga mampu menggapai prestasi tertinggi dengan kemandirian hidup dan berkembangnya bakat dan minat secara maksimal.

Translate